Liga Champions: Bayern Munich menobatkan menjadi raja Eropa saat gol Coman menghantui PSG

Buletin-bola.com – Kingsley Coman mencetak gol melawan eks klubnya Paris Saint Germain untuk memberi Bayern Piala champions Eropa keenam kalinya. Kemenangan tersebut juga memantapkan treble pertama mereka semenjak 2013 di musim pertama Hansi Flick bertugas.

Paris Saint Germain 0-1 Bayern Munich, Estadio da Luz

Bukan permainan sepak bola menyerang, melainkan permainan berkwalitas tinggi yang ditunjukan oleh Kingsley Coman. Pria kelahiran Paris 24 tahun lalu dan dibuang ketika remaja oleh klub yang ia dukung ketika kecil, dan membuat sejarah sebagai pemain termuda yang pernah mewakili mereka, sekarang sudah membuat sejarah melawan mereka sendiri. Untuk seluruh proyek uang yang dikeluarkan PSG oleh pemilik Qatar mereka, sumber gol kemenangan lawan mereka ini lebih dari sedikit ironis.

Moment krusial saat sundulan di tiang jauh di menit ke-59, namun kesederhanaan penyelesaian itu mengakhiri gerakan tajam Bayern yang melibatkan Thiago Alcantara dan Joshua Kimmich. Jawara Bundesliga dan piala Jerman datang ke laga sebagai unggulan tapi berjuang untuk memaksakan diri sebagai kekuatan tim menyerang, dengan peluang Robert Lewandowski yang paling besar di babak pertama saat tendangannya membentur tiang pada menit ke-22.

Itu bukanlah permainan yang menghasilkan jumlah kesempatan yang diinginkan banyak orang, dan PSG memperlihatkan perlawanan yang banyak diluar pikiran mereka, namun Bayern tampil klinis saat laga tiba.

Pemecah rekor

Bayern menjadi tim pertama yang memenangkan Liga Champions dengan memenangkan seluruh laga mereka, tapi itu cuma sisi lain dari apa yang sudah mereka capai di musim fenomenal ini.

Sorotan dari kampanye mereka ialah kemenangan 7-2 dari Tottenham Hotspur pada Oktober dan kemenangan 8-2 dari Barcelona lebih dari seminggu yang lalu, yang berkontribusi pada 42 gol yang dicetak dalam 10 laga, menjadikan rasio gol per laga yang lebih tinggi dari rasio juara sebelumnya. Namun konsentrasi pada angka, mengurangi keindahan yang dimainkan tim Bayern ini.

The Bavarians mengakhiri musim dengan 30 laga tanpa terkalahkan, termasuk 29 kemenangan dan Lewandowski mengakhiri musim dengan torehan 55 gol yang menakjubkan, musim yang tampaknya tidak ada habisnya di mana pemain Polandia itu terus mencetak gol dikala berusia 30, 31 dan 32 tahun. Striker itu telah menolak panggilan dari Real Madrid dan yang lainnya selama berada di Bayern, dan keputusannya untuk konsisten di Bavaria hasilnya ternyata benar.

Flick menentang taktik

Meski tampaknya segala yang diracik Hansi Flick berubah menjadi emas, pria dengan sentuhan dingin seharusnya membuat sebagian keputusan besar sebelum laga. Ia menolak kemauan untuk mengambil pendekatan yang lebih konservatif mengingat kwalitas lawan, dan bahkan mengorbankan Ivan Perisic dengan Coman. Itu merupakan taktik yang mengagetkan mencadangkan pemain Kroasia tersebut, namun pengambilan keputusan Flick ada pada uang lagi.

Prestasi Flick semenjak menggantikan Niko Kovac pada November sungguh luar biasa. Laga terakhir Kovac yakni kekalahan 5-1 di Eintracht Frankfurt, laga di mana Bayern begitu hambar sehingga malam seperti ini tampak di luar mimpi terliar mereka. Dalam beberapa bulan yang singkat Flick sudah memotivasi tim, mengembalikan putra kesayangan Munich, Thomas Müller, dan membangun merek sepak bola progresif yang mengalir yang membuat iri Eropa. Orang bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan di musim keduanya.

Bayern sudah mencapai peforma puncak yang menjanjikan, dan bersama dengan Jupp Heynckes, Ottmar Hitzfeld, Dettmar Cramer, dan Udo Lattek, Flick sudah bergabung dengan jajaran pemain hebat Bayern.

Leave a Comment